1.1 Pengertian Saraf
Sistem saraf pada kebanyakan hewan menjadi dua bagian utama. Sistem saraf pusat dari berbagai bentuk seperti misalnya planaria, cacing tanah, dan belalang terdiri atas kelompok-kelompok badan sel, yakni ganglia. Pada umumnya ganglia terdapat di bagian-bagian tubuh yang menerima banyak sekali informasi sensori (umpamanya kepala) atau yang memerlukan pengendalian otot yang tepat (umpamanya) di dekat bagian-bagian mulut. Ganglia ini dihubungkan sesamanya oleh satu atau lebih tali saraf yang terutama terdiri atas serabut-serabut (akson) inter neuron (Kimball, 1983).
Di satu sisi, perkembangan ini dapat meringankan tugas sel. Namun, disisi lain evolusi menimbulkan masalah baru yakni hewan harus mengendalikan dan mengoordinasikan berbagai macam aktivitas yang dilakukan oleh jenis sel yang berbeda. Tanpa adanya kemampuan mengendalikan dan mengoordinasikan berbagai macam aktivitas yang dilakukan oleh jenis sel yang berbeda. Tanpa adanya kemampuan mengendalikan dan mengoordinasikan berbagai macam aktivitas, hewan akan sulit bertahan hidu. Sistem organ yang diperlukan untuk menyelenggarakan fungsi kendali dan koordinasi ialah saraf dan sistem hormonal (Isnaeni, 2006).
Sistem saraf adalah sebuah sistem organ yang mengandung jaringan sel-sel khusus yang disebut neuron yang mengoordinasikan tindakan binatang dan mengirimkan sinyal antar berbagai bagian tubuhnya (Force, 2010).
1.2 Morfologi dan Gambar Ikan
Secara umum, bentuk tubuh ikan nila panjang dan ramping, dengan sisik ukuran besar. Matanya besar, menonjol, dan bagian topinya berwarna putih. Gurat sisi (linea lateralis) terputus di bagian tengah badan kemudian berlanjut, tetapi letaknya lebih ke bawah daripada letak garis yang memanjang di atas sirip dada. Jumlah sisik pada gurat sisi jumlahnya 34 buah sirip punggung, sirip perut, dan sirip dubur mempunyai jari-jari lemah seperti keras dan tajam seperti duri. Sirip punggungnya berwarna hitam dan sirip dadanya juga tampak hitam. Bagian pinggir sirip punggungnya berwarna abu-abu atau hitam (Khairuman dan Khairul, 2008).
Menurut saputra (2007), morfologi ikan sangat berhubungan dengan habitat ikan tersebut di perairan. Sebelum kita mengenal bentuk-bentuk tubuh ikan yang bisa menunjukkan dimana habitat ikan tersebut, ada baiknya kita mengenal bagian-bagian tubuh ikan secara keseluruhan beserta ukuran-ukuran yang digunakan dalam identifikasi.
- Ukuran tubuh ikan : semula ukuran yang digunakan merupakan pengukuran yang diambil dari satu titik ke titik lain tanpa melalui lengkungan badan.
- Sirip ikan : sirip-sirip ikan pada umumnya ada yang berpasangan dan ada yang tidak. Sirip punggung, sirip ekor, dan sirip dubur disebut sirip tunggal atau tidak berpasangan.
- Sisik ikan : sisik ikan mempunyai bentuk dan ukuran yang beraneka macam, yaitu sisik gonod yang merupakan sisik sikloid dan stenoid merupakan sisik kecil, tipis, atau ringan, tinggi sisik placoid merupakan sisik yang lembut.
- Mulut ikan : ikan-ikan yang berada di bagian dasar mempunyai bentuk mulut yang subterminal sedangkan ikan-ikan pelagik dan ikan pada umumnya mempunyai bentuk mulut yang terminal.
- Bentuk tubuh ikan : secara umum, Moyie & Cech (1988) mengategorikan ikan ke dalam enam kelompok, yaitu rovepredator (predator aktif), lie-in wait predator (predator tidak aktif), survace – oriented fish (ikan pelogika), bottom fish (ikan demersal), ikan bertubuh besar, dan ikan semacam belut.
1.3 Morfologi dan Gambar Udang Galah
Tubuh udang galah terdiri atas tiga bagian, yakni cephalothorax, abdomen (tubuh) dan orupada (ekor). Cephalotorax merupakan gabungan dari kepala dan dada udang galah. Bagian ini dibungkus dengan kulit yang keras yang disebut dengan karopas atau cangkang. Bagian depan kepala udang galah terdapat tonjolan karopas yang bergerigi crostum rostum digunakan untuk mengidentifikasi jenis udang galah. Caranya dengan membedakan jumlah gerigi yang terdapat pada rostrum tersebut.
Bagian tubuh udang galah: 1. Rostium, 2. Mata, 3. Antena C, 4. Antena II; 5. Kaki jalan (periopada), 6. Kaki renang (pleopada), 7. Ekor kipas (uropada), 8. Karopas, 9. Badan (abdomen), 10. Telsan (Khairuman dan Khairul, 2000).
Menurut Fost E Lester (1992), dalam Sembiring (2008), ciri-ciri morfologi udang mempunyai tubuh yang bilateral simetris terdiri atas sejumlah ruang yang dibungkus oleh kitin sebagai eksoskeleton. Tiga pasang mab-silifed yang terdapat di bagian dada digunakan untuk makan dan mempunyai lima pasang kaki jalan sehingga disebut hewan berkalor sepuluh (decapocla). Tubuh biasanya beruas dan sistem sarafnya berupa tangga tali. Dilihat dari luar tubuh udang terdiri dari dua bagian, yaitu bagian depan dan bagian belakang. Bagian depan disebut bagian kepala yang sebenarnya terdiri dari bagian kepala dan dada yang menyatu. Bagian kepala tertutup korapak, bagian perut terdiri dari ruas yang masing-masing ruas mempunyai pleupot dan ruas terakhir, terdiri dari bagian ruas perut dan ruas tolson serta uropad (ekor kipas).
1.4 Gambar Otak dan Anatomi Ikan
Menurut Sakti (2008), ada 10 sistem anatomi pada tubuh ikan:
1. Sistem penutup tubuh (kulit) : antara lain sisik, kelenjar lendir, dan sumber-sumber pewarnaan.
2. Sistem otot (urat daging) : penggerak tubuh, sirip-sirip, insan, organ listrik.
3. Sistem rangka (tulang) : tempat melekatnya otot, pelindung organ-organ dalam dan penegak tubuh.
4. Sistem pernafasan (respirasi) : organnya terutama insang, ada organ-organ tambahan.
5. Sistem peredaran darah (sirkulasi) : organnya jantung dan sel-sel darah, mengedarkan O2, nutrisi, dan sebagainya.
6. Sistem pencernaan : organnya saluran pencernaan dari mulut – anus.
7. Sistem saraf : organnya otak dan saraf-saraf tepi.
8. Sistem hormon : kelenjar-kelenjar hormon, untuk pertumbuhan, reproduksi dan sebagainya.
9. Sistem ekskresi dan osmoregulasi: organnya terutama ginjal.
10. Sistem reproduksi dan embriologi : organnya gonad jantan dan betina.
1.5 Gambar Anatomi Udang Dan Otot Udang
a) E : Tambahan menunjukkan penciuman
A : Lateral dari pengaturan sistem saraf (kuning), usus (hijau), dan jantung (magenta) dalam ceplotothorax, anterior ke arah kiri.
B : Sistem saraf anterior yang dilihat dari posteridorsal dengan neuropil (kuning dan kelompok neuron stomata.
ORN : A, B, C dari neuron reseptor penciuman
C : Anterior ke kiri
PC : Saraf anterior dan beberapa proto terpilih
T1/MXP : Toracopod atau maxipiled
MX1 : Rahang pertama
MX2 : Rahang kedua
TC : Trito serebrum
DC : Deutro serebrum
b) A : Proto serebrum dengan komponen dari kloroplas pusat, B : perbesaran rendah arrow mengidentifikasi bundel serat. B : perbesaran rendah; Arrow mengidentifikasi dari uterus yang menyerang ON (C) perbesaran agak rendah punggung keb, cluster menunjukkan dari ORNS terkait (AT), (D) OGT memasuki HE (E) Chiasm dan OGTS bilateral (F) protocebrum (PC) dengan B (6) antena lateral, neutropil 2 (LAM2) (Farun Bruck, 2003).
Tubuh udang dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian kepala dan bagian badan. Bagian kepala menyatu dengan bagian dada disebut cephalothorax yang terdiri dari 13 ruas, yaitu 5 ruas di bagian kepala dan 8 ruas di bagian dada. Bagian badan dan abdomen terdiri dari 6 ruas, tiap-tiap ruas (segmen) mempunyai sepasang anggota badan (kaki renang) yang beruras-ruas pula. Pada ujung ruas keenam terdapat ekor kipas - 4 lembar dan satu telson yang berbentuk runcing (Monodon, 2009).
Kelompok udang-udangan mempunyai tubuh yang tersusun dari tiga bagian, yaitu kepala, rongga dada, dan abdomen. Pada beberapa jenis, kepala dan rongga dada jadi satu membentuk cephalothorax. Kulit luarnya keras tersusun dari zat chitin dan zat kapur. Kelompok udang-udangan mempunyai lima pasang antena, dua pasang diatas kepala, dua pasang di rahang bawah, dua pasang di rahang atas dan satu di badan yang berfungsi bila bernafas, berenang, berjalan dan lain-lain. Contoh kelompok udang-udangan adalah udang, kepiting dan kutu air (Trisyanto, 2010).
1.6 Fungsi Masing-masing Sirip Ikan
Pada saat berenang memiliki peranan yang penting. Sirip memberikan kendali terhadap pergerakan dengan mengarahkan dorongan, hantaran ke samping dan bahkan berperan sebagai rem. Ikan harus mengendalikan gerakan baling-baling ke depan, gerakan mengoleng dan gerakan menggulung. Hal ini dilakukan dengan bantuan sirip sebagai berikut:
- Sirip ekor memberikan dorongan dan mengontrol arah ikan.
- Sirip pectoral mengontrol gerakan baling-baling ke depan dan menggeleng, juga berperan sebagai rem yang menyebabkan penarikan.
- Sirip pelvik mengontrol gerakan baling-baling ke depan.
- Sirip dorsal dan sirip anal mengontrol gerakan menggulung (Yuwono dan Purnama, 2001).
Menurut Irianto (2005), sirip punggung dan sirip anal berfungsi menjaga keseimbangan, sedangkan sirip ekor berfungsi untuk bergerak maju. Adapun sirip pectoral dan perut berfungsi membantu arah gerakan, berhenti atau keseimbangan.
1.7 Gambar Otak Udang Beserta Fungsi
Menurut Sandema, et.al (1992), ada tiga bagian utama dari otak:
Ø Proto cerebrum
- Optik ganglion, berisi tiga neuropils yang dikhususkan untuk memproses informasi yang diterima fotoreseptor retina.
- Lateral proto serebrum, berisi dua neuropik. Dalam udang karang, kepiting dan lobster berduri yang berduri proto serebrum lateral terletak pada segmen distal.
Ø Deutro cerebrum
- Olfactory lobe (ON), dijelaskan di setiap sisi otak ini mengandung daerah sinaptik berbentuk kerucut mengatur pencernaan.
Ø Titro cerebrum
- Antena II neuropil (AnN), merupakan posterior lobus aksesori pada lobster,dan dorsal bagian belakang bagian penciuman. Bentuknya runcing memiliki geometris untuk mengatur jalannya akson dari anterior bagian belakang.
- Tegu mentang neuropil, setiap saraf tegumentang membawa masukan aferen dari dorsal karapas.
1.8 Fungsi Mata, LL, dan Otak Ikan
Linea lateralis merupakan organ sensori yang terdapat pada sisi lakero-lateral tubuh yang terdiri dari kantung-kantung berisi cairan dengan aparatus sensori seperti bulu-bulu yang terbuka untuk kontak dengan air melalui pori-pori. Linea lateralis merupakan organ sensorik utama mengenali arus, pusaran, dan tekanan air serta gerakan dalam air (Irianto, 2005).
Menurut Mantel dan Miller (1954), mata difokuskan bukan oleh perubahan dalam bentuk lensa seperti pada mamalia, tetapi oleh pergerakan lensa sedikit mundur atau maju, ikan yang rabun jauh. Meskipun beberapa memiliki penglihatan yang baik, banyak spesies yang tergantung pada visi dari pada bau dalam memangsa.
Menurut Yawan (2010), fungsi otak dibagi menjadi:
Ø Senebrum, fungsi :
- Terima utusan saraf implus dan tafsir implus.
- Pusat intelek ingatan, kewarasan
- Pusat kawalan pergerakan
- Pusat kawakan deria : penglihatan, pendengaran, bau, sejuk, sentuhan, panas, tekanan.
Ø Ser belum :
- Menyelaras pergerakan badan
- Mengawal keseimbangan badan
1.9 Fungsi Organ Pada Udang
Menurut Bachtiar (2007), lobster air tawar memiliki bagian-bagian tubuh seperti berikut:
1. Sepasang antena di bagian depan kepala yang berfungsi sebagai alat peraba, perasa, dan pencium lingkungan sekitar. Alat ini juga membantu lobster mencari mangsanya.
2. Sepasang capit (celiped) yang panjang dan lebar.
3. Ekor tengah (telson) 1 buah, yang dilengkapi dengan duri-duri halus yang menyebar di sepanjang ujungnya.
4. Ekor samping 2 pasang.
5. Kaki renang (pleopod) 5 pasang terletak di tubuh bagian bawah dekat ekor yang berfungsi sebagai alat berenang.
6. Kaki jalan (wallung legs) 4 pasang terletak disamping kiri dan kanan tubuhnya.
Menurut Khairuman dan Amri (2006), tubuh udang teriri atas tiga bagian, yakni cephalothorax abdomen (tubuh), dan uropod (ekor). Cephalothorax merupakan gabungan dari kepala dan dada udang galah. Bagian ini dibungkus oleh kulit keras yang disebut dengan keramas atau cangkang. Bagian depan kepala udang galah terdapat tonjolan karapas yang bergerigi (rostrum). Rostrum digunakan untuk mengidentifikasi jenis udang galah. Kaki renang pada ujung betina agak melebar dan membentuk ruang untuk mengerami telurnya (brood chambers). Uropada berfungsi sebagai pengayah atau yang biasa disebut dengan ekor kipas.
1.10 Sistem Saraf dan Fungsi Pada Ikan
Menurut Yuwono dan Purnama (2001), jika rangsang mengenai sistem saraf akan diubah menjadi gelombang elektrokimia, yang ditransmisikan sepanjang sistem saraf. Dalam berbagai hewan air seperti pada cumi-cumi sistem saraf tersusun dari sel-sel saraf yang disebut neuron. Fungsi saraf telah banyak diteliti dengan menggunakan neuron dari hewan ini. Karena ukuran yang cukup besar. Berdasarkan fungsinya neuron dapat dikelompokkan menjadi :
1. Neuron afferent atau neuron sensori yang berasal dari urea reseptor.
2. Neuron efferent atau neuron motor gain yang menuju baik berupa jaringan otot maupun kelenjar.
3. Neuron internucial atau inter neuron yaitu menghubungkan antara neuron afferent dan neuron efferent.
Menurut Pollar et.al., (2007), struktur jaringan saraf terdiri unit tersambung yang disebut “node” atau “neuron”. Setiap neuron ini menunjukkan kemampuan dalam melakukan perhitungan dalam jaringan, neuron mengambil beberapa nomor sebagai masukan, lalu menterjemahkan sebagai kode yang cukup mirip dan mengembalikannya sebagai output. Nilai output atau neuron yang lain, kecuali neuron yang menghasilkan output terakhir dari seluruh sistem.
1.11 Sistem Saraf Sebagai Fungsi Pada Ruang
Menurut Radiopoetra (1991) sistem nervosium, morfologi susunan syaraf udang dalam banyak hal menyerupai cacing tanah. Systema nervosium control terdiri atas :
1. Satu ganglion cerebrate, di dalam kepala
2. Dua buah commissura ciram-esophageaule, yang melanjutkan diri ke truncus nervosus yang terletak dekat linea mediana permukaan ventral tubuh.
3. Truncus vervosus.
Menurut Mantel dan Miller (1959), sistem saraf sama dengan annelida otak atau ganglion supraesophageal terhubung didorsal sampai esophagus dan terdiri atas gabungan ganglia. Dari situ saraf mengirim sinyal menuju mata dan antena. Circumesophageal menghubungkan otak dan ganglian subeso phageal, dimana gangguan dari 5 atau 6 dari ganglia. Ganglion subesophageal mengirimkan saraf ke bagian mulut dan beberapa organ anterior lain. Ada sepasang ganglia gabungan di setiap segmen 8 sampai 9, dimana dari saraf, dikirim ke organ lainnya.
1.12 Mekanisme Proses Masaknya Rangsangan
1.12.1 Pendengaran
Menurut Villee, et.al., (1984), kenoresptor atau pendengaran adalah hal mengenai deteksi gelombang dan tekanan yang timbul, karena gangguan makanan yang terjadi pada jarak tertentu ikan mempunyai divertikulum yang homologm tetapi lebih kecil yang disebut lagena. Gelombang suara yang sampai pada ikan terdapat dalam air. Dengan demikian gelombang suara dengan mudah masuk ke dalam telinga dalam. Ma.............. ikan adalah menghindari supaya jaringan “transparan” terhadap suara. Banyak ikan menangkap atau menghambat lewatnya gelombang suara dengan otolit yang besar dalam sakulus: yang lain menggunakan gelombang renang sebagai reseptor awal atau hidrogen.
Menurut Royee (1972), organ pendengaran sederhana pada beberapa crustacea adalah reseptor mekanik: kecil, progecting, organ pendengaran berbulu halus yang sensitif pada defleksi. Struktur yang hampir sama terjadi gurat sisi yang terdapat pada kanal ikan, seperti reseptor kulit sensitif hanya pada librasi dengan frekuensi rendah (sampai pada 200 Hz) atau pada arus air. Sebuah organ pendengaran bagian dalam, atau labirin, yang hampir sama pada organ pendengaran mamalia yang tidak terdapat pada ikan untuk mendeteksi frekuensi tinggi lebih dari 50 Hz. Anggota dari cybrimifarmes, sebuah grup ikan-ikan air tawar dengan sebuah koneksi khusus antara alat pendengaran dengan gelembung renang, yang dapat mendeteksi sampai pada 13.00 Hz (batas tertinggi pada manusia sebesar 10.000 Hz).
1.12.2 Peraba
Menurut Rahardjo et.al., (1989), sungut merupakan alat peraba pada ikan yang terdapat di sekitar mulut, pada sungut ini terdapat pemusaran organ peraba. Alat perasa, dan organ perasa pada ikan (taste bud), selain di bagian tersebut organ perasa juga menyebar di lengkung insang, epibranchial dan gigi faring.
Menurut Scheer (1984), stimultan dari reseptor yang berupa sentuhan (misalnya bulu) atau reseptor yang menanggapi gerakan anggota tubuh distimulasi dengan cara menekuk kaki yang menyebabkan makin lamanya jalan impuls rangsangan pada sistem saraf pusat. Di dalam beberapa sisi faring, respons yang dicatat dari rangsangan yang kemudian diterapkan untuk antennate, antenules dan uropad pada kedua sisi dan berupa kaki di sisi yang sama.
1.12.3 Penglihatan
Menurut Svendsen and Anthony (1984), sinar cahaya dari objek difokuskan pada retina untuk menghasilkan gambar terbalik retina mengandung dua jenis reseptor untuk cahaya: kerucut yang membedakan warna, dan batang yang memungkinkan visi pada intensitas cahaya rendah. Rhodopsin adalah pigmen yang terlibat dalam perubahan fotokimia yang menterjemahkan gelombang cahaya menjadi impuls saraf dari barang. Senyawa ini asintesis dari retina dan molekul protein dalam ketiadaan cahaya.
Menurut Villee et.al., (1984), bagian yang peka cahaya pada mata vertebrata adalah retina. Suatu belahan bola yang terdiri atas sejumlah besar sel batang dan kerucut. Disamping itu, retina mempunyai sejumlah neuron sensori dan konektor dengan aksonnya. Untuk sampai pada sel-sel ini cahaya harus melalui beberapa lapisan neuron. Pengaturan yang tampaknya kurang tepat ini disebabkan karena mata berkembang sebagai dibentuk dari otak dan melihat sedemikian rupa sehingga sel-sel yang peka tersebut akhirnya terletak di bagian retina yang terjauh.
1.12.4 Penciuman
Menurut Vitee, et.al., (1984), indera penciuman vertebrata dapat dilayani oleh neuron primer yang terdapat dalam epitel hidung di rongga hidung bagian atas. Masing-masing neuron mempunyai akson pendek yang melalui lempeng kribrifm (ayakan) dari tengkorak dan segera bersinopsis dengan neuron lain dalam otak. Kemungkinan untuk mengolah data alfatori yang datang dari reseptor sebelum mencari celebrum, adalah sangat besar. Jadi reseptor yang telah menjadi tidak peka terhadap suatu zat, akan beraksi normal terhadap zat lainnya.
Menurut (Ganang, 1981), apabila molekul berbau merangsang reseptor timbullah potensial dan reseptor, tetapi mekanisme molekul menimbulkan potensial tidak diketahui. Pada konteks penciuman reseptor terhadap suatu bau adalah perangsangan sel-sel piramidal diikuti oleh penghambatan sel-sel piramidal kemudian merupakan subyek realitisasi melalui akson koloteral yang panjang dan hal ini dapat menerangkan kecenderungan aktivitas kitmis dan serzures pada konteks penciuman.
1.12.5 Pengecap
Menurut Ganong (1981), reseptor pengecap adalah kemoreseptor yang memberi respons pada zat-zat yang larut dalam cairan mulut yang membasahinya. Zat-zat ini nampaknya menimbulkan potensial generator, tetapi bagaimana molekul-molekul dalam larutan saling beraksi dengan sel-sel reseptor untuk menimbulkan potensial ini tidak diketahui. Ada tanda-tanda bahwa molekul menimbulkan pengecupan bekerja pada membran sel reseptor atau ukuran-ukurannya.
Alat perasa, organ perasa pada ikan (taste bud) terpusat pada rongga mulut, yaitu pada lidah dan organ Palatine. Selain di bagian tersebut, organ perasa juga menyebar di lengkung insang. Epibronchial dan gigi faring (Rahardjo, 1989).